Jadi ‘kurir’ pasang judi online

Jadi ‘kurir’ pasang judi online Deky Abubakar (48), sekarang harus bermasalah dengan kepolisian. Hoby ia taruhan, membawanya tinggal dibalik jeruji besi. Perantau asal Gorontalo itu cuma dapat pasrah, karena ia terancam hukuman optimal 10 tahun penjara.

Deky yang tinggal indekos di Jalan Merbabu, teritori Kelurahan Kampung Jawa, Samarinda Ulu, dibekuk kepolisian saat bertransaksi judi togel online, Senin (29/8) siang, di dalam rumah salah seorang partnernya. Waktu itu, ia sedang layani pemasang judi.

“Kita terima info warga yang risau, ada judi online. Beberapa waktu kita selidik, kita dapatkan aktor (Deky Abubakar) dalam suatu rumah, serta kita bawa serta ke kantor,” kata Kanit Reskrim Polsekta Samarinda Ulu, Iptu Yunus Kelo, pada wartawan di kantornya, Selasa (30/8).

Pada penyidik, Deky mengaku tindakan perjudiannya, dilaksanakan dengan cara online. Golongan sopir, jadi langganannya untuk menempatkan judi togel. Triknya, pemasang mentransfer ke rekening Deky, lalu Deky menyambungkan ke beberapa web perjudian.

“Aktor sendiri, kerja untuk sopir pengantar air mineral dalam galon. Diakuinya judi itu hanya pendapatan sampingannya. Masih, penyidik menjeratnya dengan klausal 303 KUHP mengenai perjudian, dengan intimidasi optimal 10 tahun penjara,” tutur Yunus.

Pada wartawan, Deky akui sudah lakukan register di 2 web judi yang berbasiskan server di Singapura. Jadi ‘kurir’ pasang judi online ia dapat layani pemasang judi, dengan komisi 7 % nilai uang yang terpasang oleh pemasang.

“Telah 3-4 bulan ini. Lewat SMS, selanjutnya saya masukan di web (judi) itu, server-nya berada di Singapura. Saya bisa bayaran 7 % dari uang yang terpasang,” kata Deky.

“Ya saya tergiur, sebab saya hoby judi. Rekan saya katakan, dibanding saya pasang judi, seharusnya saya jadi penampung beberapa pemasang. Jadi saya pasang setiap hari Senin, Rabu, Kamis, Sabtu serta Minggu,” tutur Deky.

“Disebut saya suka, iya . Tetapi uang dari ini, dicukup-cukupkan saja untuk kepentingan setiap hari, buat kos. Saya diamankan polisi ini, istri saya di Gorontalo tidak paham,” sambungnya.

Deky yang sudah mempunyai 4 anak itu, memang pergi merantau dari Gorontalo. Awalnya, ia kerja dalam suatu pabrik di teritori Porong, Sidoarjo, yang sekarang musnah tertimbun lumpur Lapindo. Pascapemutusan jalinan kerja, ia merantau ke Samarinda.

“Tidak ada keluarga saya di Samarinda. Tetapi jika rekan, banyak. Jika telah semacam ini (diamankan polisi), ingin bagaimana lagi,” demikian Deky.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.